2 Oknum Polda Penganiaya Jurnalis Disidang, KJJT Desak Hakim Mengkuak Dalangnya

By SuaraLPKPK.com 23 Sep 2021, 22:27:33 WIB Suara Jatim
2 Oknum Polda Penganiaya Jurnalis Disidang, KJJT Desak Hakim Mengkuak Dalangnya


SURAB,Suaralpkpk.Com - Masih ingat kekerasan terhadap jurnalis saat menjalankan tugas ? Kini dua oknum polisi aktif di Polda Jatim mulai menjalankan persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya. 


Baca Lainnya :

Keduanya menjadi pesakitan karena melakukan tindakan terhadap Wartawan Tempo Nurhadi saat menjalankan aktivitas sebagai jurnalis.


Polisi itu adalah Bripka Purwanto dan Brigpol Muhammad Firman Subakhi. Sidang pertama, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Winarko membacakan tuduhan. Namun, Winarko sempat menolak kehadiran tim bantuan hukum (Bakum) Polda Jatim.


Sikap itu keluarkan karena tim duduk di kursi sidang sebagai pengacara kedua. Penolakan itu dilontarkan Jaksa Winarko dengan mendatangi meja ketua majelis hakim.


"Kalau polisi menjadi advokat tidak bisa. Hanya pendampingan saja. Bankum dari Polri sifatnya hanya pendampingan dan tidak bisa menjadi advokat. Karena masih sebagai Aparatur Sipil Negara. Hal ini sesuai keputusan Mahkamah Agung (MA) nomor 8810 tahun 1987," kata Jaksa Winarko, dalam, Persidangan Rabu (22/9).


Penolakan itu disetujui oleh Ketua Majelis Hakim M Basir. Walau hakim itu setuju dengan protes dari jaksa, tapi, masih membiarkan Bankum Polri itu duduk di kursi dengan catatan hukum untuk mendengarkan membacakan muatan.


Setelah itu, Winarko kemudian melanjutkan membaca muatan. Kedua dijerat beberapa pasal. Yaitu, pasal 18 ayat 1 Undang-undang (UU) nomor 40/1999 tentang pers juncto pasal 55 ayat 1, pasal 170 ayat 1 KUHP juncto 55 ayat 1, pasal 351 ayat 1 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan pasal 335 ayat 1 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.


Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya ikut mendampingi kasus tersebut. Usai, mereka melakukan aksi di depan pagar PN Surabaya. Saat itu mereka menggunakan baju hitam dengan tulisan 'pentungan tidak bisa dihentikan liputan'.


Aksi dilakukan dengan menutup kepala mereka dengan plastik putih. Sebagai simbol mengingatkan terkait tindakan aparat yang menyiksa Nurhadi dengan menutup kepala Nurhadi dengan plalstik serta menebarkan ancaman. Tindakan itu dilakukan oleh beberapa oknum Polisi dan TNI.


Sayang, yang menjadi tersangka polisi dalam kasus tersebut, hanya dua orang saja. Dalam aksi itu, aliansi ini mendesak agar aparat penegak hukum menjalankan praktik penyidikan dan peradilan yang bersih.


Mereka juga meminta majelis hakim untuk memintaan memintaan untuk kedua kalinya. Terakhir meminta kepolisian untuk menangkap para pelaku lainnya yang masih belum terungkap. 


"Para inikan  dilengkapi dengan senjata api. Sehingga memberikan dampak psikologis yang negatif terhadap korban Nurhadi," kata AJI Surabaya Eben Haezer usai aksi kemarin


Setelah aksi itu dilakukan, mereka bertemu dengan Ketua PN Surabaya Joni, melalui Humas PN Safri yang mewakili Joni, di ruang Humas PN Surabaya. 


Noor Arief Prasetyo, jurnalis senior sekaligus salah satu pendiri Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT), menyatakan sejak awal kasus KJJT juga memberikan dukungan penuh agar kasus itu tuntas.


Bahkan, KJJT ikut mendampingi korban kala itu melapor ke Mapolda Jatim. Tak ketinggalan melalukan aksi solidaritas sebelum digelarnya rekonstruksi perkara. Karena KJJT sangat konsen dalam masalah kekerasan terhadap jurnalis di negeri ini terutama di Jatim sendiri


KJJT kata Noor Arief, meminta aparat penegak hukum serius memproses kasus ini secara tuntas. Jangan sampai jadi preseden buruk penanganan hukum di Indonesia yang asal saja.


"Kami meminta penjelasan penanganan. Siapa saja yang terlibat harus bertanggung jawab. Siapapun itu. pangkat apapun karena hukum tidak mengenal kasta," terang Arief, redaktur Harian Disway.


Terakhir KJJT nendesak agar majelis hakim mampu menguak siapa dalang dan otak serta orang-orang yang memerintahkan dua oknum Polisi ini menganiaya jurnalis.


"Pangkatnya seberapa tinggi hukum harus ditegakkan. Semua sama di mata hukum," ujar Arif menyudahi.


Sebelumnya, kasus kekerasan yang dialami Nurhadi terjadi pada 27 Maret 2021. Ketika itu ia mendapat tugas untuk mewawancarai terduga kasus suap pajak, Angin Prayitno Aji.


Bekas Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan sedang menggelar resepsi pernikahan anaknya di Graha Samudera Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut Morokrembangan Surabaya. Nurhadi ditangkap dan dibawa ke musala di belakang gedung megah itu.


Di tempat itu Nurhadi dianiaya, mulai dari ditampar, dijambak sambil diinjak kakinya, dipukul tengkuk dan kakinya, serta dipiting. Pelaku kejahatan dua oknum polisi dan pengawal. 


"Mereka bilang tak gentar bila ada serangan balik dari pendapat kawan-kawan media berdasarkan penilaian itu," kata Nurhadi.


Pelaku juga merampas telepon seluler korban, menghapus isinya dan merusak kartunya. Nurhadi sempat disekap di Hotel Arcadia di kawasan Jembatan Merah selama dua jam.


Belakangan pelaku yang diduga melakukan kekerasan itu mengaku dari Satuan Pembinaan Masyarakat memberi Nurhadi uang Rp 600 ribu sebagai bentuk tutup mulut. Mereka juga mengantar korban pulang ke Sidoarjo. Namun, uang tersebut ditolak oleh korban.


KJJT Pasuruan : Joko Santoso




Komentar Melalui Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tampilkan semua Komentar

Tulis Komentar

Sekilas Info


Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP
[Menyalin] kode AMP